Minggu, 28 Maret 2010

57% Republikan Yakin Obama Muslim

VIVAnews - Sebuah survei yang dilakukan Harris Interactive, menemukan 57 persen pemilih Partai Republik Amerika Serikat menyatakan Presiden Amerika Serikat Barack Obama seorang muslim. Secara umum, dari 2.320 orang dewasa di Amerika Serikat yang disurvei antara 1 sampai 8 Maret 2010, 32 persen menyatakan Obama seorang muslim.

Kemudian 40 persen yang disurvei menyatakan Obama seorang sosialis, 25 persen menyatakan Obama akan menyerahkan kedaulatan Amerika Serikat pada pemerintahan dunia, dan sebagian kecil menyatakan dia melanggar konstitusi dan warisan Amerika.

Bahkan 20 persen percaya Obama tidak lahir di Amerika Serikat, meski ada fakta akta kelahiran Obama di Hawaii. Juga 20 persen percaya "Obama melakukan banyak hal seperti Hitler lakukan."

Terdapat perbedaan kesan berdasarkan pandangan politik, partai politik dan pendidikan. Orang-orang yang tidak meraih pendidikan tinggi sebanyak 45 persen mengira Obama seorang muslim, sementara yang berpendidikan tinggi hanya 20 persen.

Berdasarkan pandangan politik, 51 persen konservatif mengira Obama adalah muslim, sementara hanya 26 persen moderat dan 16 persen liberal yang berpikiran seperti itu. Sementara berdasarkan pilihan partai politik, 57 persen Republikan menyatakan Obama muslim dan hanya 15 persen Demokrat dan 29 persen independen yang berpikiran seperti itu.

Survei ini dilakukan setelah John Avlon menulis sebuah buku "Wingnuts: How the Lunatic Fringe Is Hijacking America." Buku ini menceritakan bahwa sejumlah orang Amerika memiliki pandangan ekstrem mengenai Presiden ke-44 Amerika ini.

"Jumlah baru ini mengagetkan meski tak mengejutkan," kata Avlon mengomentari hasil survei. Survei ini, katanya, merupakan seruan kepada seluruh rakyat Amerika mengenai bahaya ketakutan dan kebencian karena sikap partisan yang berlebihan. "Rakyat Amerika harus ingat, sayap ekstrem ini melupakan bahwa patriotisme lebih penting daripada sikap partisan."

Survei ini dilakukan pada orang dewas yang berumur di atas 18 tahun. Responden diambil secara proporsional berdasarkan umur, jenis kelamin, ras, pendidikan, wilayah dan pendapatan. Responden survei dipilih di antara yang bersedia untuk disurvei sehingga tidak bisa diperkirakan sampling error.

Harris Interactive adalah salah satu firma riset berpengaruh di dunia. Harris Poll, begitu dikenal namanya, memiliki keahlian luas mulai dari kesehatan, teknologi, urusan umum, energi, telekomunikasi, jasa keuangan, media, restorat dan lain-lain. Harris meladeni pelanggan dari 215 negara di Amerika, Eropa dan Asia.

by: yahoo.com

Minggu, 07 Maret 2010

Mempertanyakan Pendidikan Kewarganegaraan

ARTIKEL "Pendidikan Kewarganegaraan dan Demokrasi Indonesia" oleh A Ubaidillah (Kompas, 16/1) menarik untuk ditanggapi lebih lanjut. Ada dua hal yang coba diangkat dalam tulisan itu.

Pertama, pendidikan kewarganegaraan (civic education) yang selama ini diadakan di Indonesia telah menyimpang dari tujuan mulia pendidikan kewarganegaraan itu sendiri. Entah karena model pendekatan pengajaran yang sifatnya tidak dialogis-partisipatoris, atau karena muatan-muatan politis-ideologis yang dikenakan pada pendidikan kewarganegaraan selama masa Orde Baru (Orba), pendidikan kewarganegaraan dianggap mengalami kegagalan. Dan harga yang harus dibayar karena kegagalan itu amat mahal, antara lain rusaknya moralitas bangsa Indonesia.

Kedua, Ubaidillah memvisikan sebuah pendidikan kewarganegaraan yang demokratis-partisipatoris dengan desain materi yang melibatkan para siswa secara aktif dalam proses pendidikan itu. Di sini ia menyitir pemikiran John Dewey mengenai demokrasi sebagai contoh bagaimana sebuah pendidikan kewarganegaraan seharusnya dipraktikkan.

Kritik kosong?

Tilikan kritis Ubaidillah tentang praktik pendidikan kewarganegaraan selama ini mau tidak mau membawa kita kepada kesimpulan, reformasi pendidikan kewarganegaraan belum terjadi. Karena itu kini saatnya kita melakukan reformasi menyeluruh. Demi keakuratan data, harus dikatakan, pendidikan kewarganegaraan mulai diajarkan lagi secara formal di sekolah sejak 2001. Semula bidang studi ini bernama Pendidikan Kewarganegaraan, tetapi sejak tahun 2002 berubah menjadi Kewarganegaraan (Civic). Selama tiga tahun terjadi tiga kali perubahan draf kurikulum. Amat jelas dari draf kurikulum itu tidak hanya tema-tema seputar demokrasi, civil society, dan HAM sebagaimana diusulkan Ubaidillah, tetapi juga tema-tema sentral lain yang sifatnya pengembangan diri (self-help).

Tentu saja desain ketiga kurikulum itu amat menekankan model aktif, dialogis- partisipatif. Kurikulum kewarganegaraan kita menyebutnya sebagai model pendekatan belajar kontekstual, di mana partisipasi aktif dan dialogis siswa hanya salah satu unsur dari pendekatan itu. Model pendekatan ini hendak menonjolkan salah satu aspek filsafat pendidikan yang sedang up to date, yakni pendidikan apa pun harus dimulai dari pengalaman siswa. Mirip metode kebidanan Socrates, pengalaman siswa (konteks)-pengalaman hidup bermasyarakat dan bernegara-didialogkan di antara teman-teman dan guru. Materi yang tersaji di buku dan silabus hanya akan menjadi rangkaian pemikiran konseptual (a bundle of thought) yang akan menerangi penggalan-penggalan pengalaman itu.

Pertanyaannya, sejauh mana pendidikan kewarganegaraan yang sudah berlangsung selama kurang lebih tiga tahun benar-benar berbeda dengan Pendidikan Moral Pancasila, PPKn atau penataran P4 sebagaimana diprihatinkan Ubaidillah? Terlepas dari bagaimana diajarkan di sekolah, rancangan pendidikan kewarganegaraan yang kita miliki kini amat berbeda dari pendidikan kewarganegaraan dan Pancasila sebelumnya. Seluruh aspek moral Pancasila yang sebelumnya mendominasi praktik pendidikan di Indonesia kini justru didekonstruksi dan "dilucuti" dari pendidikan kewarganegaraan.

Pendidikan kewarganegaraan yang kini ada, mengadopsi pendekatan multidimensi. Karena itu tilikan moral terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi beragam (tidak lagi Pancasila sentris). Tentu saja demokrasi dan seluruh aspek yang berhubungan dengannya seperti partisipasi warga negara, peran pers, keadilan dan kepastian hukum, pemilihan umum, dan sebagainya mendapat perhatian istimewa.

Kritik Ubaidillah, "budaya dan praktik penyalahgunaan kekuasaan dan meningkatnya korupsi di kalangan elite bisa menjadi fakta gagalnya pendidikan kewarganegaraan masa lalu" tidak sepenuhnya benar. Bila mau jujur, pendidikan agama telah mengalami kegagalan. Tapi apakah di situ letak masalahnya?

Cara berpikir filosofis membedakan antara kondisi-kondisi yang niscaya bagi terjadinya sesuatu (necessary condition) dan alasan yang memadai bagi terjadinya sesuatu itu (sufficient reason). Apa yang dikritik Ubaidillah adalah kondisi yang memungkinkan terjadinya kemerosotan moral bangsa, tetapi bukan merupakan alasan memadai. Mengingat pengetahuan mengenai yang baik (good) tidak menjamin seseorang pasti berperilaku baik (bermoral), maka tantangannya adalah sejauh mana orang Indonesia menjadi pribadi otentik sebagaimana dipahami Immanuel Kant. Seluruh prinsip moral yang diketahui harus sungguh-sungguh menjadi imperatif kategoris bagi tindakan-tindakan kita karena prinsip-prinsip moral tersebut baik pada dirinya sendiri.

Demokrasi pragmatis

Saya kira tepat Ubaidillah menyitir pemikiran John Dewey mengenai demokrasi sebagai rujukan pentingnya pendidikan yang demokratis dalam pendidikan kewarganegaraan. Meski demikian, mengatakan pemikiran demokratis Dewey "lebih mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan kelompok" justru dapat menjadi konsep yang kontradiktif dengan konsep pendidikan kewarganegaraan yang demokratis-partisipatoris sebagaimana ditekankan Ubaidillah. Bagaimana mungkin sebuah pendidikan kewarganegaraan yang dialogis- partisipatoris (demokratis) dapat dipraktikkan bila yang ditonjolkan kepentingan umum (baca: negara)? Apakah John Dewey memaksudkan demikian?

Menurut Shannon Sullivan (Philosophy Today, vol 41:2, 1997), demokrasi selalu dipahami Dewey sebagai demokrasi pragmatis. Yang ia maksud adalah "a humanistic liberal democracy that has the goal of helping humans find ways to eliminate suffering in their lives" (hlm 299). Dalam arti itu harus dikatakan, demokrasi memampukan individu untuk secara pragmatis menemukan cara/jalan guna berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara demi mencapai kehidupan lebih baik dan membahagiakan (pragmatisme mengajarkan, sesuatu itu bernilai kalau ia bermanfaat bagi individu).

John Dewey tidak berbicara mengenai pengutamaan kepentingan umum di atas kepentingan individu atau kelompok. Menurut filsuf Amerika ini, individu adalah pribadi (self) yang memiliki perilaku/kebiasaan tertentu (habits) dan dorongan atau kecenderungannya (impulses). Sebagai warga suatu masyarakat atau bangsa, habits dan impulses individu ini belum tentu cocok/sesuai kepentingan masyarakat di mana ia hidup. Karena itu setiap individu (sebagai warga negara) perlu melakukan tawar-menawar antara kepentingan dirinya dengan kepentingan masyarakat yang bersangkutan.

Dalam tawar-menawar itu individu dapat mengubah kebiasaan dan perilakunya, dengan catatan, dengan melakukan hal itu ia akan mencapai tujuan akhir, yakni to eliminate suffering in one’s life, Dewey menyebut proses tawar-menawar ini sebagai rekonstruksi, yakni suatu proses di mana "I must find a way to change my habits," bukan untuk memasung kepentingan individu demi kepentingan negara, tetapi untuk mencapai growth of individuals, karena "growth of individual leads to growth of the culture which produces even greater growth of individuals, and so on" (Sullivan, hlm 307).

Dalam konteks pendidikan kewarganegaraan, gagasan demokrasi John Dewey hendak menegaskan pentingnya pendidikan kewarganegaraan Indonesia dijalankan sebegitu rupa sehingga memperkuat posisi tawar individu berhadapan dengan kekuatan negara. Inilah tantangan yang harus dijawab kita bersama.

Jeremias Jena Penulis Buku Kewarganegaraan SMA, Mahasiswa S2 Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Dosen Character Building pada Universitas Bina Nusantara, Jakarta

URL Source: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0402/06/opini/836267.htm

Rabu, 24 Februari 2010

pengaruh globalisasi terhadap kehidupan masyarakat

Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah.

Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia. (Menurut Edison A. Jamli dkk.Kewarganegaraan.2005)

Menurut pendapat Krsna (Pengaruh Globalisasi Terhadap Pluralisme Kebudayaan Manusia di Negara Berkembang.internet.public jurnal.september 2005). Sebagai proses, globalisasi berlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan waktu. Ruang makin dipersempit dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain- lain. Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini, perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia.Oleh karena itu globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya.

Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara termasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh globalisasi di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya dan lain- lain akan mempengaruhi nilai- nilai nasionalisme terhadap bangsa.

*

Pengaruh positif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme
1.

Dilihat dari globalisasi politik, pemerintahan dijalankan secara terbuka dan demokratis. Karena pemerintahan adalah bagian dari suatu negara, jika pemerintahan djalankan secara jujur, bersih dan dinamis tentunya akan mendapat tanggapan positif dari rakyat. Tanggapan positif tersebut berupa rasa nasionalisme terhadap negara menjadi meningkat.
2.

Dari aspek globalisasi ekonomi, terbukanya pasar internasional, meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara. Dengan adanya hal tersebut akan meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang menunjang kehidupan nasional bangsa.
3.

Dari globalisasi sosial budaya kita dapat meniru pola berpikir yang baik seperti etos kerja yang tinggi dan disiplin dan Iptek dari bangsa lain yang sudah maju untuk meningkatkan kemajuan bangsa yang pada akhirnya memajukan bangsa dan akan mempertebal rasa nasionalisme kita terhadap bangsa.



*

Pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme
1.

Globalisasi mampu meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat membawa kemajuan dan kemakmuran. Sehingga tidak menutup kemungkinan berubah arah dari ideologi Pancasila ke ideologi liberalisme. Jika hal tesebut terjadi akibatnya rasa nasionalisme bangsa akan hilang
2.

Dari globalisasi aspek ekonomi, hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri (seperti Mc Donald, Coca Cola, Pizza Hut,dll.) membanjiri di Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia.
3.

Mayarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.
4.

Mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin, karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi. Hal tersebut dapat menimbulkan pertentangan antara yang kaya dan miskin yang dapat mengganggu kehidupan nasional bangsa.
5.

Munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian antarperilaku sesama warga. Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan peduli dengan kehidupan bangsa.

Pengaruh- pengaruh di atas memang tidak secara langsung berpengaruh terhadap nasionalisme. Akan tetapi secara keseluruhan dapat menimbulkan rasa nasionalisme terhadap bangsa menjadi berkurang atau hilang. Sebab globalisasi mampu membuka cakrawala masyarakat secara global. Apa yang di luar negeri dianggap baik memberi aspirasi kepada masyarakat kita untuk diterapkan di negara kita. Jika terjadi maka akan menimbulkan dilematis. Bila dipenuhi belum tentu sesuai di Indonesia. Bila tidak dipenuhi akan dianggap tidak aspiratif dan dapat bertindak anarkis sehingga mengganggu stabilitas nasional, ketahanan nasional bahkan persatuan dan kesatuan bangsa.





*

Pengaruh Globalisasi Terhadap Nilai Nasionalisme di Kalangan Generasi Muda

Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama di kalangan muda. Pengaruh globalisasi terhadap anak muda juga begitu kuat. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda kita kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala- gejala yang muncul dalam kehidupan sehari- hari anak muda sekarang.

Dari cara berpakaian banyak remaja- remaja kita yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahan yang memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan. Pada hal cara berpakaian tersebut jelas- jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut mereka dicat beraneka warna. Pendek kata orang lebih suka jika menjadi orang lain dengan cara menutupi identitasnya. Tidak banyak remaja yang mau melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa.

Teknologi internet merupakan teknologi yang memberikan informasi tanpa batas dan dapat diakses oleh siapa saja. Apa lagi bagi anak muda internet sudah menjadi santapan mereka sehari- hari. Jika digunakan secara semestinya tentu kita memperoleh manfaat yang berguna. Tetapi jika tidak, kita akan mendapat kerugian. Dan sekarang ini, banyak pelajar dan mahasiswa yang menggunakan tidak semestinya. Misal untuk membuka situs-situs porno. Bukan hanya internet saja, ada lagi pegangan wajib mereka yaitu handphone. Rasa sosial terhadap masyarakat menjadi tidak ada karena mereka lebih memilih sibuk dengan menggunakan handphone.

Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang tingkah lakunya tidak kenal sopan santun dan cenderung cuek tidak ada rasa peduli terhadap lingkungan. Karena globalisasi menganut kebebasan dan keterbukaan sehingga mereka bertindak sesuka hati mereka. Contoh riilnya adanya geng motor anak muda yang melakukan tindakan kekerasan yang menganggu ketentraman dan kenyamanan masyarakat.

Jika pengaruh-pengaruh di atas dibiarkan, mau apa jadinya genersi muda tersebut? Moral generasi bangsa menjadi rusak, timbul tindakan anarkis antara golongan muda. Hubungannya dengan nilai nasionalisme akan berkurang karena tidak ada rasa cinta terhadap budaya bangsa sendiri dan rasa peduli terhadap masyarakat. Padahal generasi muda adalah penerus masa depan bangsa. Apa akibatnya jika penerus bangsa tidak memiliki rasa nasionalisme?

Berdasarkan analisa dan uraian di atas pengaruh negatif globalisasi lebih banyak daripada pengaruh positifnya. Oleh karena itu diperlukan langkah untuk mengantisipasi pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai nasionalisme.

*

Antisipasi Pengaruh Negatif Globalisasi Terhadap Nilai Nasionalisme

Langkah- langkah untuk mengantisipasi dampak negatif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme antara lain yaitu :

1.

Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk dalam negeri.
2.

Menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan sebaik- baiknya.
3.

Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik- baiknya.
4.

Mewujudkan supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti sebenar- benarnya dan seadil- adilnya.
5.

Selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial budaya bangsa.

Dengan adanya langkah- langkah antisipasi tersebut diharapkan mampu menangkis pengaruh globalisasi yang dapat mengubah nilai nasionalisme terhadap bangsa. Sehingga kita tidak akan kehilangan kepribadian bangsa.

Jumat, 19 Februari 2010

Kebudayaan Daerah Kepulauan Riau

kebudayaan daerah kepulauan Riau memiliki sejarah yang cukup panjang. awalnya,kepulauan Riau bukanlah daerah yang strategis.tetapi juga sarat dengan Sumber Daya Alam (SDA) ini pernah menjadi salah satu pusat kerajaan Melayu, yakni Kerajaan Melayu Riau-Lingga. Peninggalan-peninggalannya sampai hari ini masih dapat dijumpai di Penyengat dan Daik-Lingga. Adanya peninggalan-peninggalan kesejarahan itulah yang kemudian menjadikan nama Penyengat dan Daik-Lingga tidak lepas dari pembicaraan orang. Apalagi, di pulau yang relatif kecil itu (Penyengat) terlahir seorang pujangga kerajaan yang salah satu karyanya tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, bahkan mancanegara. Pujangga itu adalah Raja Ali Haji yang terkenal dengan Gurindam 12-nya. Di awal kemerdekaan, Kepulauan Riau juga tidak lepas dari pembicaraan orang, terutama karena mata uang yang dipergunakan sebagai alat tukar bukan rupiah sebagaimana daerah lainnya di Indonesia. Dengan alat tukar yang menggunakan mata uang asing (Malaysia dan Singapura) membuat kehidupan masyarakatnya relatif lebih baik ketimbang masyarakat yang berada di daerah sekitarnya, malahan masyarakat Indonesia pada umumnya, karena mata uang yang dipergunakan memiluku nilai tukar yang lebih tinggi ketimbang rupiah. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Kepulauan Riau pada waktu itu dapat diibaratkan bagaikan “gula”, sehingga banyak para pendatang yang ingin “kecipratan” rezeki di sana. Di tahun 80-an, Batam yang pada mulanya masih berupa hutan dan karenanya jarang disebut-sebut orang, menjadi kekuatan dahsyat yang digerakkan oleh otorita. Pembangunan fisik secara besar-besaran dilakukan di sana, sehingga nama Kepulauan Riau (baca Tanjungpinang) semakin tenggelam. Orang lebih tahu Batam ketimbang Tanjungpinang. Padahal di masa lalu, orang lebih mengenal Tanjungpinang ketimbang Batam. Namun dewasa ini, khususnya sejak dicanangkannya Batam-Bintan dan sekitarnya dijadikan sebagai kawasan industri dan pariwisata, nama Kepulauan Riau, sedikit demi sedikit, mencuat kembali. Lobam menjadi kawasan industri, sementara Lagoi menjadi kawasan pariwisata terbesar di Asia Tenggara. Dan, masyarakat dari berbagai daerah pun kembali berdatangan guna mengadu nasib, mengejar kehidupan yang lebih baik ketimbang di daerahnya sendiri.Kepulauan Riau semakin menarik dan dibicarakan orang ketika tahun 1999 masyarakatnya menyelenggarakan musyawarah besar (Mubes) guna meningkatkan kesejahteraannya. Musyawarah yang diselenggarakan di kilometer 10 (batu 10), tepatnya di Hotel Royal Palace, tanggal 15 Mei 1999, membuahkan tekad (keputusan) bahwa Kabupaten Kepulauan Riau mesti dimekarkan, baik horizontal maupun vertikal. Satu dari sejumlah alasannya adalah kondisi geografis Kepulauan Riau, yang jika masih bergabung dengan Provinsi Riau, maka rentang kendali pemerintahannya tidak efektif dan efisien. Dan, jika ini dipertahankan, Kepulauan Riau akan semakin ketinggalan dibanding dengan daerah lain yang tergabung dalam Propinsi Riau.Buah dari Mubes itu adalah terwujudnya beberapa kecamatan bergabung dan menjadi Kabupaten Karimun. Kemudian, beberapa kecamatan yang berada di kawasan Pulau Tujuh bergabung dan menjadi Kabupaten Natuna. Sementara itu, Tanjungpinang yang pada mulanya hanya sebuah kota administratif, kini telah berubah status menjadi kota otonom. Dengan perkataan lain, pemekaran secara horizontal hampir seluruhnya terwujud. Sedangkan, pemekaran secara vertikal (provinsi) adalah terwujudnya wilayah Kepulauan Rian menjadi sebuah provinsi sendiri (lepas dari Provinsi Riau). sedangkan keadaan sosial budaya di daerah Kepulauan Riau ini sangat erat kaitannya dengan faktor geografis, kependudukan, dan sejarah masyarakat yang bersangkutan. Untuk itu, ada baiknya jika kita lihat sekilas tentang sejarah atau persebaran orang yang kemudian kita sebut sebagai “Melayu”.Berkenaan dengan ini Melalatoa menyebutkan bahwa sesudah zaman es terakhir datanglah sekelompok orang yang bercirikan ras weddoid ke Nusantara, termasuk ke daerah Riau. Sampai sekarang sisa-sisa mereka masih ada, yakni orang: Sakai, Hutan, dan Kubu yang kemudian disebut sebagai “orang asli”. Dalam kurun waktu 2.500 sampai dengan 1.500 Sebelum Masehi datanglah orang-orang yang kemudian disebut sebagai Proto Melayu. Melalui Semenanjung Melayu mereka menyebar ke Sumatera. Sisa-sisa mereka yang kemudian dikenal sebagai Orang Talang Mamak dan Orang Laut juga masih dapat ditemukan di daerah Riau. Gelombang berikutnya (masih menurut Melalatoa) adalah yang terjadi sesudah tahun 1.500 Sebelum Masehi. Mereka kemudian disebut sebagai Deutro Melayu (Melalatoa, 1986:190).Sementara itu, Suparlan, berdasarkan catatan ahli kepurbakalaan (Van Heakeren dan Soekmono), menambahkan bahwa sebelum orang Melayu datang ke Nusantara (ke daerah Riau), sebenarnya di sana telah ada penduduknya. Bahkan, menurutnya bukan hanya ras Weddoid semata, tetapi juga Austroloid. Berdasarkan catatan itu, Suparlan menduga bahwa penduduk yang tergolong sebagai ras Weddoid dan Austroloid itu masuk ke pedalaman karena terdesak oleh orang-orang Proto Melayu. Sementara itu, orang-orang Deutro Melayu (yang datang pada gelombang migrasi berikutnya) juga mendesak orang-orang Proto Melayu ke pedalaman, sehingga terdapat percampuran antara orang-orang Weddoid, Austroloid, dan Proto Melayu. Selain itu, ada orang-orang Proto Melayu yang melarikan diri ke pedalaman, dan ada juga yang hidup berdampingan, bercampur-baur dengan orang-orang dari Deutro Melayu (Suparlan, 1995: 39--40). Dari berbagai pendapat itu dapat ditarik kesimpulan bahwa Orang Melayu bukan merupakan orang-orang yang berasal dari satu ras tertentu, melainkan merupakan percampuran dari berbagai ras, baik yang berkulit hitam maupun kuning.Faktor kesejarahan ditambah dengan letak geografisnya yang langsung berbatasan dengan negara jiran (Malaysia dan Singapura), dan masih ditambah lagi dengan berada di sekitar jalur perdagangan dan atau pelayaran internasional (Selat Malaka), maka pada gilirannya membuat orang Melayu terbiasa mengadakan kontak dengan unsur dan atau pendukung kebudayaan asing. Kontak-kontak itulah yang kemudian mempengaruhi corak kebudayaan1 orang Melayu itu sendiri.
Provinsi Kepulauan Riau merupakan gerbang wisata dari mancanegara kedua setelah Pulau Bali. Jumlah wisatawan asing yang datang berkunjung mencapai 1,5 juta orang pada tahun 2005. Objek wisata di Provinsi Kepulauan Riau antara lain adalah wisata pantai yang terletak di berbagai kabupaten dan kota. Pantai Melur, Pulau Abang dan Pantai Nongsa di kota Batam, Pantai Pelawan di Kabupaten Karimun, Pantai Lagoi, Pantai Tanjung Berakit, Pantai Trikora, dan Bintan Leisure Park di kabupaten Bintan. Kabupaten Natuna terkenal dengan wisata baharinya seperti snorkeling.
Selain wisata pantai dan bahari, provinsi Kepulauan Riau juga memiliki objek wisata lainnya seperti cagar budaya, makam-makam bersejarah, tarian-tarian tradisional serta event-event khas daerah. Di kota Tanjungpinang terdapat pulau Penyengat sebagai pulau bersejarah karena di pulau ini terdapat masjid bersejarah dan makam-makam Raja Haji Fisabililah dan Raja Ali Haji yang kedua-duanya adalah pahlawan nasional.
itulah kebudayaan kepulauan Riau.

Jumat, 12 Februari 2010

Mengapa Saya Harus Bangga Sebagai Bangsa Indonesia

Saya bangga menjadi bangsa Indonesia. mengapa saya bangga menjadi bangsa Indonesia??
karna bagi saya,Indonesia adalah negara terindah yang pernah saya tempati. Indonesia memiliki berbagai macam adat dan istiadat,beraneka ragam kebudayaan. mulai dari sambang sampai merauke. meski terkadang Indonesia terjadi kerusuhan,demontrasi,dll tp bagi saya,Indonesia is the beautiful world. kadaan alam yang masih asri,membuat saya bangga dengan Indonesia. orang-orang Indonesia yang masih begitu kental menganut adatnya membuat saya menjadi tak rela bila ada orang lain yang berusaha untuk merubah atau menghilangkan adat istiadat itu. saya punya cerita,saat itu saya sedang merasa jenuh,akhir'a saya mencoba untuk bermain online di salah satu fitur internet yg mendukung adanya game online. saat saya online,teman yang sedang bermain dengan saya, ternyata berasal dari negara orang,antara lain dari Italy,Spanyol,Amerika,mereka bertanya pada saya dari mana saya berasal. dengan bangga saya menjawab kalau saya adalah orang Indonesia. lalu mereka mengatakan bahwa mereka sangat mengagumi negara saya ini,yaitu negara Indonesia. saya bertanya mengapa mereka mengagumi Indonesia, mereka menjawab karan Indonesia mempunyai begitu banyak keragaman budaya.tradisi suatu daerahnya memiliki pesona yang tidak di miliki oleh negara manapun.dari 3 orang yang bertanya pada saya tentang Indonesia,salah satunya mempunyai teman yang menjadi korban bom Bali 1. tapi orang yang menjadi korban itu,berkata bahwa ia tidak kapok untuk datang k Indonesia.hal itu yang tambah membuat saya menjadi bangga menjadi bangsa indonesia.
itulah sebab'a saya bangga menjadi warga negara Indonesia.

Minggu, 22 November 2009

antrian panjang demi edward

uphoria 2012 belum selesai, sudah terjadi lagi fenomena antrian di bioskop. Kali ini lewat sebuah film sekuel dari Twilight, New Moon. Film yang banyak dinantikan para Twihards atau Twilighter (sebutan para pecinta Twilight) di Indonesia ini menemui titik puncaknya pada 21 November 2009. Tepatnya terjadi di Studio XXI EX Thamrin Jakarta, antrian untuk membeli tiket terlihat jelas.

Kami pun langsung menyambangi studio tersebut untuk turut merasakan langsung atmosfir dari dari para Twilighters. Saat tiba, antrian panjang langsung menyambu kami. Tidak disangka antrian para pengunjung sudah sampai luar studio XXI.


“Antrian sudah terjadi sejak dari jam 7 pagi, seperti yang Anda lihat, sampai sekarang sekitar seribu orang yang datang. Kami buka 4 studio dan untuk hari ini sudah sold out,” jelas Jansen sebagai manajer XXI EX saat ditemui. Segalanya sudah dipersiapkan oleh pihak manajemen XXI EX untuk mengantisipasi lonjakan penonton tersebut, bahkan mereka pun turut menambah personil. “Meskipun keadaan crowded seperti ini, tapi pasti kami akan memberikan pelayanan terbaik kami,” janji Jansen. Antusias para Twilighters pun terlihat ketika studio tersebut memutar Original Soundtrack Twilight. Serentak para pengunjung saat itu teriak histeris ketika lagu Supermassive Black Holes milik Muse berkumandang.

Bahkan terlihat beberapa orang turut menggunakan dan membawa semua pernak-pernik Twilight dan New Moon mulai dari kaos, gelang, bahkan sampai poster. Oh, ternyata mereka tergabung dalam Twilight Nusantara, komunitas pecinta Twilight Indonesia. TIdak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut kami pun mewawancarai beberapa orang untuk menanggapi euphoria Twilight tersebut.

Dede, Penty, Anggia, Arie (Pengurus Komunitas Twilight Indonesia)

“Kami kerjasama dengan XXI EX untuk membuka 250 kursi. Semuanya terisi penuh. Sebenarnya masih banyak Twilighters yang ingin mendapatkan tiket yang kami buka pemesanannya sejak sebulan lalu, tapi sayangnya terbatas. Kita cukup senang akhirnya New Moon tayang di sini, karena menjadi tempat berkumpulnya para Twilighters dari seluruh Indonesia.”


wwww.21cineplex.com

Senin, 12 Oktober 2009

Usaha Counter HP di Rumah

Akhir-akhir ini kita banyak menemui toko-toko yang mengutamakan menjual pulsa selular, tukar/ tambah HP baru atau second maupun service HP. Toko itu biasa kita sebut dengan nama counter HP. Counter HP banyak kita jumpai di setiap sudut jalan. Jangankan di sudut jalan, bahkan di pelosok desapun saat ini sudah banyak pengusaha counter rumahan. Malahan yang tidak mempunyai tempat untuk menjalankan usaha inipun bisa menjalankannya tanpa tempat khusus untuk memperdagangkan dagangannya, karna bisa menjual dagangannya pada orang-orang terdekat.
Suatu ketika saat saya sedang melakukan perjalanan menuju daerah asal saya alias mudik. Saya melihat begitu banyak toko counter HP yang berjualan di sepanjang jalan Lintas Sumatra. Jadi saya tidak perlu lagi susah-susah mencari penjual pulsa bila saya sedang ke-habisan pulsa di jalan. Bahkan jika saya sedang malas untuk turuun dari mobil untuk membeli pulsa, saya bisa menghubungi salah satu teman saya yang kebetulan memang menjual isi ulang pulsa.
Setibanya saya di tempat tujuan, kebetulan salah satu sepupu saya akan keluar untuk membeli pulsa. Sayapun mengikuti langkah sepupu saya membeli pulsa. Tidak lama perjalanan saya, sayapun sampai di toko counter. Saya melihat toko itu banyak di datangi oleh para pembeli. Terfikir oleh saya untuk mencoba untuk membuka usaha counter tersebut. Tapi sebelum membuka usaha itu, saya masih belum tau seluk beluk menggeluti usaha counter tersebut. beberapa pertanyaan muncul di pikiran saya seperti “ dari mana kita bisa mendapatkan pulsa yang murah agar saat kita menjual pulsa itu kembali kita bisa meraih keuntungan” atau “ berapa pendapatan perhari” atau lain sebagainya.
Tiba saatnya giliran sepupu saya yang membeli pulsa. Saat sepupu saya sedang membeli pulsa, saya memberanikan diri untuk bertanya pada penjual pulsa itu. Untungnya saya dan sepupu saya adalah pelanggan terakhir malam itu.

“ mas, udah lama jual pulsa? Ko’ sepertinya saya baru lihat took ini ya?” Tanya saya pada si penjual

“ udah lumayan lama dik! Adik bukan tinggal di daerah ini ya?” tanya mas penjual itu kembali

“ o,,,,sudah lama! Iya mas! Saya Cuma mudik saja!” jawab saya

“ memang adik ini dari mana?” Tanya mas itu

” saya dari Jakarta mas! Kalau boleh tau, modalnya berapa sih mas kalau mau membuka usaha counter ini?” tanya saya
” kalau sudah ada tempat sih paling 3-4 juta juga sudah bisa buka usaha dik!”

” kalau belum ada tempat?” tanya saya makin semangat

” paling beda 2 juta aja! Memang adik ini mau buka usaha counter?”

” kalau saya lihat sih usaha ini cukup meyakinkan juga untuk nambah-nambah uang jajan mas! Tapi ini punya mas sendiri kan?”

” iya,ini toko saya! Tapi biasanya ada karyawan saya yang kerja di sini. Tapi sekarang sedang mudik juga!”

” karyawannya dari mana mas?”

” karyawan saya masih teman main-main saya waktu SMA dulu. Tapi waktu ketemu saya dia lagi tidak mempunyai pekerjaan ya saya ajak saja dia bekerja di sini. Waktu itu juga kebetulan saya sedang butuh sekali karyawan.”

” keuntungannya berapa mas satu hari?”

” wah itu sih tidak tentu dik. Kalau sedang ramai seperti tadi bisa dapat 800ribu! Tapi kalu sedang sepi ya paling 500ribu saja!”

” kalau mau beli pulsa,kartu perdana, dan yang lain-lain seperti ini dari mana mas?” tanya saya sambil menunjuk ke arah acesoris yang berhubungan dengan HP.

” kalau perdana sama pulsa sih saya lebih suka langsung beli di pusat operatornya. Ya walaupun banyak tempat, tapi saya lebih senang beli langsung dari pusat. Sedangkan acesoris saya beli di Jakarta. Memang mahal modalnya, tapi kalau keuntungan sih bisa lumayan makan satu hari.” jawab pedagang

” disini kan banyak yang jualan seperti mas ini, apa mas tidak takut bangkrut karna kalah bersaing dengan toko lain?”

” ya takut sih takut, tapi kita serahin saja sama Tuhan. Selain itu juga kan saya sudah punya langganan sendiri, jadi ya mudah-mudahan sih tidak bangkrut. Lagi pula, saya dengar-dengar hanya toko saya saja yang menjual pulsa lebih murah dari toko yang lain.”

” jadi menurut mas, jual murah bukan berarti akan bangkrut?”

” ya seperti itu. Karna jaman sekarang, orang lebih memilih murah tapi hasil baik!”

” tapi setiap pulsa kan sama saja mas kualitasnya?”

” memang,tapi kalau untuk usaha seperti ini bukan kualitas yang di utamakan, tapi pelayanan yang memuaskan. Kalau penjual menjual dengan wajah yang cemberut, ya orang yang membelipun akan takut. Tapi kalau penjual melayani dengan ramah, pasti pelanggan juga senang.”

” o,,,seperti itu ya? Kalau begitu makasih ya mas!” jawab saya sambil beranjak dari toko itu
Setelah mendengar itu, saya tambah tertarik dengan usaha itu. Dari percakapan saya dengan penjual pulsa tadipun saya mendapatkan ilmu yang cukup berharga untuk menjadi pemula berdagang pulsa. Saya bisa menyimpulkan bahwa mencari pekerja itu gampang, kita bisa melihat lingkungan sekitar kita. Teman yang sedang menganggur dan mempunyai sifat yang baik, sanak saudara yang memang membutuhkan pekerjaanpun bisa kita jadikan karyawan kita. Untuk masalah pembayaran karyawan, kita bisa bernegosiasi dengan karyawan. Dengan syarat, si karyawan juga harus mengetahui kondisi keuangan yang di peroleh sang pemilik toko.